Live Your Life

Di malam terakhir Ramadhan 1430 H, kira-kira 2 tahun yang lalu, di Masjid Al-Miftah, saya merenung, appaaa ya yang bisa saya lakukan di akhir tingkat 4 ini? Untuk ngisi waktu yang banyak lowongnya. Untuk sekedar memberikan warna-warni di tahun terakhir saya di kampus ini (dulu sih masih berpikir tahun terakhir, ternyata masih ada setahun lagi.hehe)
Tiba-tiba terbersit bayangan sepeda saya yang lama, Wim Cycle Metallizer warna ungu. Sepeda itu dibeli tepat saat peresmian renovasi masjid yang sedang saya ‘diami’ saat itu. Tiba-tiba terbayang petualangan-petualangan saya menggunakan sepeda saat kecil, jatuh perdana saya dari sepeda, perjalanan terjauh saya dengan si Izer (panggilan saya buat sepeda tersebut)… Sepeda itu kini dipakai oleh adik saya, dengan beberapa modifikasi dan reparasi tentunya.
Gambar Izer versi asli (diambil dari sepedaku.com)

Bayangan itu akhirnya membuat saya memutuskan untuk membeli sepeda gunung. Alhamdulillah masih ada cukup uang dari beasiswa PPA. Yes. Finally, I decided that cycling will become my activity in my spare time.
Bersepeda itu hobi saya. Hobi masa kecil yang muncul kembali saat ini. Seseorang pernah mengatakan kepada saya: “Hobi itu jangan dijadiin pekerjaan, karena saat kita stres bekerja, kita perlu mengalihkannya ke hobi. Klo hobi dijadiin kerjaan, klo stres, ga ada tempat untuk istirahat dong…”
Bener juga ya…

Di lain waktu, saya juga senang membuat cerita. Saya mencoba membuat karya yang bisa dinikmati orang, menyampaikan pesan-pesan yang baik, dan inspiratif. Lahirlah beberapa tulisan di blog ini. Saya juga senang mendesain. Berkhayal tentang senjata-senjata masa depan, pesawat terbang, kapal-kapal penangkap ikan, bangunan-bangunan aneh tapi keren (menurut saya), dan lain-lain-lain-lain. Dan khayalan saya itu saya wujudkan di atas kertas, karena sejak SD saya memang senang menggambar & melukis. Namun sebagian besar kegiatan yang menyenangkan itu sekarang terabaikan. Entah kenapa.
Salah satu, dari sekian banyak ‘cocoretan’ saya waktu SMA
Kenapa?
Kenapa ya? Apakah karena saya lupa? Males? Sibuk? Terlalu sibuk? Sok sibuk?
…selingan lagi ya…
Saya jadi ingat, pernah membaca salah satu artikel di inflight magazine (lupa, di Lion Air atau di Garuda Indonesia). Di sana ada kisah orang kaya dan nelayan. Orang kaya itu kerja melulu. Sangat, sangat, sangat sibuk. Si nelayan, hanya kerja sebentar, secukupnya, yang penting mendapatkan ikan untuk dimakan dan dijual. Sisanya, menikmati keindahan laut dan berleha-leha di pantai. Si orang kaya, seorang pekerja keras, mempunyai kapal pesiar,dll.,dll.
Suatu saat, di pantai, si orang kaya bertanya kepada nelayan:
OK: Kenapa kamu ngga bekerja keras seperti saya?
N: Saya udah nangkep ikan, cukup untuk makan keluarga saya.
OK: Liat dong saya, kerja keras sepanjang hari, sampe jadi orang kaya seperti sekarang.
N: Terus, klo udah kaya ngapain?
OK: Ya…saya bisa liburan seperti ini. Menikmati suasana pantai yang indah…
N: Saya juga ko…ini lagi menikmati suasana pantai, dan saya ga perlu kerja keras seperti Anda.
(kira-kira begitulah inti ceritanya, script-nya tidak persis sama dengan yang di majalah)
Ternyata tujuan hidup orang kaya, sama dengan nelayan. Mungkin alangkah lebih baiknya, dengan modal dan kapabilitas yang dimiliki orang kaya, dia punya tujuan lain yang lebih banyak dan lebih mulia.
Beberapa minggu terakhir ini, tiba-tiba terpikirkan oleh saya mengenai tujuan hidup saya. Mau ngapain saya? Apa saja yang harus saya lakukan? Kenapa saya begini? Kenapa saya begitu? Kenapa saya tidak bisa melakukan ini? Kenapa saya tidak bisa melakukan itu?
Dan ‘melalui’ orang ini, jawabannya muncul…

Live Your Life!
Harus mengatur hidup lebih baik lagi. Bekerja untuk hidup. Bekerja yang efektif. Nikmati hidup. Bermimpi. Raih mimpi-mimpi itu. Gapai kemuliaan dunia-akhirat. Dan berani untuk melaksanakan itu semua.
~end of article~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *