Mencari tujuan hidup

Petunjuk untuk mencari jalan hidup/ misi hidup yang harus ditempuh manusia (Surat An-Nahl:69)

Tulisan ini saya buat untuk mengomentari tulisan seorang fresh graduate yang menuangkan kegelisahannya tentang apa sebetulnya tujuan hidupnya dan apa yang harus dia lakukan dengan hidupnya. Pemikirannya tersebut dihubungkan dengan kejadian-kejadian yang dia alami, keahlian yang dia miliki, dan juga ketertarikan akan hobi tertentu yang dia tekuni.

Untuk mengetahui suatu tujuan, tentu kita harus mengidentifikasi dulu siapa subjek/pelaku yang akan menempuh aktivitas untuk mencapai tujuan tersebut. Kita pun perlu tahu apa boundary condition nya. Apa peraturan yang harus diikuti agar kita dapat mencapai tujuan kita dengan cara yang benar.

Analogi Sepak Bola

Bayangkan ada seseorang yang tiba-tiba diterjunkan ke lapangan bola. Awalnya dia tidak tahu untuk apa dia tiba-tiba ada di lapangan hijau tersebut. Di sekitar dia ada 21 orang lain yang saling memperebutkan bola. Di setiap ujung dia melihat gawang dan di sekeliling lapangan dia melihat garis pembatas warna putih. Apa jadinya kalau dia tidak tahu siapa dia? Sedang berada di mana? Lalu apa yang harus dia lakukan?

Orang tersebut perlu tahu atau diberitahu kalau dia adalah seorang pemain bola. Dia berada di salah satu dari dua tim yang berlaga. Dan tujuan dia adalah memasukkan bola ke gawang lawan serta menjaga gawangnya agar tidak kemasukan bola.

Tidak cukup sampai situ, dia perlu mengenal posisi dan potensinya dengan baik. Apakah dia seorang striker, gelandang, bek, atau kiper? Dia tidak bisa mengambil semua peran. Dia perlu tahu, posisi apa yang pelatih tugaskan kepada dia. Apa misi dia?

Kehidupan Manusia

Sebagai seorang manusia, kita memiliki manual bernama Alquran. Sebuah kitab yang jelas yang menjadi petunjuk, yang menjadi The True North kita. Di dalamnya terdapat penjelasan apa yang seharusnya manusia cari dan kerjakan.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Adz-Dzaariyaat:56

Manusia diciptakan sebagai “abdi” Allah yang mengemban sebuah misi atau peran di dunia.

Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan-mu yang telah dimudahkan (bagimu).“… 

An-Nahl:68-69

Di surat An-Nahl (lebah) di atas, Allah memberikan isyarat kepada kita, bagaikan lebah, untuk menempuh jalan spesifik yang telah Allah tugaskan kepada kita. Setiap diri kita pernah di-briefing dan diberikan tugas untuk apa dia turun ke muka bumi.

Petunjuk untuk mencari jalan hidup/ misi hidup yang harus ditempuh manusia (Surat An-Nahl:69)
Petunjuk untuk menempuh jalan hidup/ misi hidup kita

Mencari misi hidup kita

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar.

Fussilat:53

Untuk dapat mengetahui apa sebetulnya peran dan misi yang ditugaskan kepada kita, kita perlu merenungkan segala sesuatu yang Allah takdirkan kepada kita di luar diri ini atau di dalam diri kita sendiri. Misal: kenapa saya ditakdirkan Allah untuk lahir di Indonesia? tumbuh di bawah asuhan orang tua X & Y? mendapatkan pengalaman buruk Z? mempunyai skill AA dan AB? Diketemukan dengan seorang teman AC? Dan variabel-variabel lain yang Allah hadirkan ke dalam hidup kita.

Perenungan itu adalah bentuk mengenali diri kita sendiri. Saat kita sudah mengenal diri, mudah-mudahan kita bisa mengetahui apa misi hidup kita. Lebih jauh lagi, proses ini akan membuat kita mengenal Rabb kita.

Tiap-tiap diri bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.

H.R. Bukhari

Seperti dikatakan Rasulullah SAW di atas, setiap diri kita ini unik. Punya peran masing-masing di dunia ini. Ada yang jago gambar, ada yang jago menghitung, ada yang kuat bekerja di lapangan, ada yang sabar dan telaten bekerja di rumah, semua skill set itu dimiliki untuk tujuan tertentu. Jika kita mengetahui konsep ini, kita tidak akan repot-repot mengkhayal, memikirkan, atau mengandai-andaikan untuk menjadi orang lain. Kita akan sibuk mencari tahu apa sebenarnya misi hidup kita dan berusaha menjalani apa yang ditunjukkan dan dimudahkan Allah terhadap kita. Belum tentu kita bisa menjalani posisi yang dijalankan orang lain. Mungkin tampak enak, tapi kalau itu tidak sesuai dengan misi hidup kita, bisa jadi kita akan “babak belur” menjalaninya.

Kisah Syekh Ali Jaber

Saya kebetulan sedang baca buku yang berjudul “Cahaya dari Madinah” yang isinya berupa catatan/nasihat dan pemikiran Syekh Ali Jaber (Alm). Beliau adalah ulama kelahiran Madinah (orang Arab asli) yang memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan beramal di sini hingga akhir hayatnya. Di salah satu bab, beliau bercerita bahwa dia lahir dan besar di Tanah Suci, di kota Madinah, yang merupakan suatu anugerah karena hampir semua orang Islam yang mengerti pasti ingin tinggal dan meninggal di Madinah. Namun dia merasa itu bukan misi hidupnya. Dengan pindah ke Indonesia, dia merasa dia bisa lebih bermanfaat kepada manusia dengan mengajarkan ilmu yang dia miliki dan mengajak orang-orang untuk lebih dekat dengan Alquran. Namun Syekh Ali Jaber pun tidak menyalahkan jika ada orang Indonesia yang mau tinggal di Madinah (berkebalikan dengannya), karena mungkin itu kondisi yang optimal agar orang tersebut dapat bermanfaat bagi lingkungan.

Kisah Imam An-Nawawi

Di kisah lain, yang dialami oleh Imam An-Nawawi, seorang ulama besar yang menyusun kitab Riyadhus Salihin (Taman Kesalehan), beliau pernah mencoba untuk mempelajari ilmu kedokteran. Saat hal itu terlintas di benak beliau, beliau membeli Al-Qanun karya Ibnu Sina untuk dipelajari. Namun Imam An-Nawawi bercerita, “Hatiku terasa gelap. Selama berhari-hari, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku merenungkan diriku sendiri, mencari faktor yang menyebabkan aku bisa seperti itu. Tiba-tiba Allah memberikan ilham kepadaku, bahwa faktor yang menyebabkan kejadian itu karena aku sibuk mempelajari ilmu kedokteran. Pada saat itu juga, aku langsung menjual Al-Qanun, seketika hatiku terasa cerah.”

Tidak ada aib dalam ilmu kedokteran, hanya saja, Allah mempersiapkan An-Nawawi untuk menguasai disiplin ilmu yang lain, yaitu ilmu hadits dan yang lainnya. Di situlah misi hidup Imam An-Nawawi berada. Di disiplin ilmu itulah ia ber-darma.

Epilog

Tujuan hidup kita adalah untuk mencari rida Allah (baca: Apakah Bahagia dan Ketenangan itu Tujuan Hidup?). Dalam perjalanannya, kita mengemban sebuah misi yang perlu kita indentifikasi sendiri berdasarkan “ayat-ayat” (tanda-tanda) yang dimunculkan ke dalam hidup kita. Karena pada akhirnya, kita akan ditanya oleh yang mengutus kita apakah kita sudah menjalani peran sesuai dengan apa yang ditugaskan-Nya?

Semoga tulisan ini menjadi pengingat dan referensi bagi sang fresh graduate yang saya mention di awal tulisan. Tulisan dia dapat dilihat di sini: Live Your Life. Tulisan 11 tahun yang lalu.

*bacaan lebih lengkap: Tentang Manusia

2 Comments on "Mencari tujuan hidup"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *