Karakter Profesor

Jika Anda ingin tahu berbagai macam karakter profesor untuk mendapatkan tips “menghadapi” mereka, maka artikel ini bukan pilihan tepat untuk dibaca. Di sini saya hanya ingin bercerita tentang karakter profesor di sini (Jepang – tepatnya di kampus saya – tepatnya lagi di departemen saya – lebih tepatnya lagi di lab-lab terdekat dengan saya) yang sempat saya amati. Kenapa saya amati? Soalnya saya juga sedang mencari-cari gimana sih dosen yang baik itu?

Oke desu…beginilah hasil pengamatan saya.
I am sorry I don’t know
Ada salah satu profesor, sebut saja Prof. Y (saya ngga mau pake Prof. “X”, takut dikira mutant, hehe). Dia salah satu profesor yang terkenal di bidang geoteknik, setidaknya di Asia. Sudah menulis banyak paper dan jurnal juga menemukan beberapa metode testing baru. Tapi kadang saat kuliah beliau menjawab “I forget, I’ll find out later” atau “I am sorry, I don’t know” jika ada pertanyaan yang memang tidak bisa dia jawab. Terus apa uniknya?
Saya mencoba berada dalam posisi beliau. Menjadi orang yang sudah dalam posisi “atas” dan tidak bisa menjawab pertanyaan, mungkin akan terlihat bodoh, bahkan akan menurunkan reputasi. Tapi Prof. Y ini santai saja bilang lupa atau tidak tahu. Sambil nyengir pula. 
Saya simpulkan itu adalah salah satu contoh sincere expression. Dan memang, itu tidak membuat reputasi dia turun di mata kami. Jadi pelajaran yang bisa saya ambil, meskipun kita ahli di bidang tertentu dan tidak bisa menjawab pertanyaan tertentu di bidang kita, jadilah ksatria dengan mengatakan sejujur-jujurnya. Tidak perlu membela diri dan melakukan pembenaran. 
Kadang saya pernah mendengar hal seperti itu dalam presentasi-presentasi (tender, wawancara, dsb.)
I did that before
Suatu saat ada kunjungan dan presentasi tamu dari peneliti di salah satu universitas top Eropa. Dia mempresentasikan dengan gamblang metode assessment kelongsoran salah satu kota tua di Swiss. Presentasinya sangat memukau bagi saya. Teknologi yang digunakan juga sophisticated. Dan pemaparan sang peneliti juga jelas. 
Di dalam ruangan itu ada juga salah satu prof kami yang risetnya memiliki topik yang sama. Dari sejak awal saya perhatikan sang prof, beliau memerhatikan dengan serius presentasinya. Terkadang raut mukanya terlihat seperti mengagumi pemaparan peneliti tersebut. Saya menebak-nebak mungkin prof kami ini akan bertanya tentang kemungkinan kerjasama dalam penelitian di bidang tersebut, atau mungkin menanyakan lebih jauh fitur-fitur teknologi yang digunakan dalam assessment itu.
Salah.
Saat sesi diskusi dibuka, dengan humblenya prof kami mempertanyakan reliabilitas metode tersebut karena jauh sebelum itu dia sudah menggunakan teknologi tersebut. “I did that before when I was being a visiting researcher in Cambridge…bla…bla…bla….” 
Err…
Saya salut dengan kepribadiannya. Diam-diam menghanyutkan. Dan si peneliti pun yang sejak tadi berbicara berapi-api menurunkan nada bicaranya dan mengakui bahwa metode tersebut memiliki beberapa kekurangan. Pelajaran yang bisa diambil: bagaikan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.
Do not follow my way in your writing
Salah satu prof senior di lab kami, selalu memposting paper-paper terbarunya di milis lab. Beliau salah satu ahli prof yang cukup berpengaruh di dunia geoteknik. Suatu saat beliau mengirim paper terbarunya yang akan dikirimkan di salah satu konferensi tahun depan. Namun ada catatan khusus dalam suratnya. Intinya beliau tidak puas dengan hasil risetnya ini, karena kurangnya studi literatur oleh salah satu mahasiswa yang berkontribus. Tapi karena bukan untuk jurnal masih bisa diterima. Namun di akhir suratnya beliau menambahkan: “Do not follow my way in your writing.”
Di postingan lain, untuk paper yang akan di presentasikan di salah satu seminar di negara berkembang, beliau menyatakan kalau paper tersebut minim referensi yang tak lain adalah tidak bagus. Tapi papernya diterima oleh panitia. Di surat beliau menjelaskan bahwa minim referensi sangat tidak bagus. Kenapa papernya diterima? Karena beliau pembicara kunci di sana.

Pelajaran yang bisa saya ambil: keterbukaan. Prof ini menyadari dari kesalahannya orang lain bisa belajar. Dan tidak ragu dia membuka kesalahan tersebut pada mahasiswa-mahasiswanya.

Yah, itulah kisah beberapa orang profesor di departemen saya. Semoga berguna bagi orang yang sedang mencari jati diri. hehehe.

2 Comments on "Karakter Profesor"


  1. Kalau liat budaya Jpn ttg Senpai-Kohai, ternyata dalam 1 bidang (KK) itu Profesornya cuma 1 ya. Jadi, kalau si Associate Prof mau jadi Prof, harus nunggu si Prof nya pensiun dulu.Di Todai kitu teu?

    Reply

  2. ENgga satu banget sih tapi dibandingin dengan di ITB, misal buat KK geoteknik di departemen sipil rasio jumlah pengajarnya:Todai:ITB = 1:4

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *