Upgrading Presentation Skill with Tendon

Di bulan Maret yang lalu saya mengikuti serangkaian workshop tentang presentasi dari T&DON (dibacanya: Tendon). Saya tahu T&DON dari serangkaian akun yang saya follow di instagram. Awalnya saya tertarik untuk ikut pelatihan vokal dari Mba Riri Artakusuma (@riri_artakusuma). Eh, disclaimer dulu, saya bukan mau pindah kerjaan jadi penyanyi ya..hehe…walaupun dulu pernah bikin video iseng-iseng di sini. Judul training yang dibawakan Mba Riri ini adalah “optimizing your voice” dan saya mikirnya akan berguna buat saya biar bisa berkomunikasi lebih kharismatik atau lebih kenceng kalau di lapangan πŸ™‚ Feed-nya Mba Riri ini juga sering relates atau di repost oleh beberapa trainer yang saya follow. Agaknya ilmu ini memang bermanfaat juga untuk mendukung pekerjaan yang sering menggunakan suara (MC, trainer, dll.).

Suatu saat saya lihat postingan Mba Riri yang nge-bundling materi yang akan dia bawakan dengan presentation skill workshop oleh T&DON (sebuah start-up yang menawarkan training & presentation design yang di lead oleh Mas Fendy Alwi @fendyalwi). Di situlah saya tertarik untuk investasi. Hehe.

Saya merasa kebutuhan untuk mengasah skill presentasi ini menjadi semakin penting akhir-akhir ini, terutama karena dampak pandemi. Sejak pandemi ini, skema WFH dilakukan banyak perusahaan. Dan online meeting pun semakin banyak. Memang sih, saat WFO pun kita masih perlu presentasi saat dibutuhkan. Tapi ternyata setelah saya ikut workshop dari T&DON ini ada banyak ilmu yang bisa saya dapat, tidak hanya dari segi mendesain presentation deck, tapi juga bagaimana mengeksekusi remote / online presentation yang karakteristiknya berbeda dengan off-line presentation.

Saya mengikuti dua kelas, yaitu kelas fundamental dan elevator. Gambaran besarnya sebagai berikut:

  • Crafting a flow story. Di materi pertama kelas fundamental ini, T&DON ngasih kita materi cara merancang presentasi berdasarkan O-R-A-N-G-E (bisa diliat di instagram T&DON tentang penjelasannya). Itu semacam hints/tips merancang alurnya.
  • Presenting an Engaging story. Di sini kita belajar cara membawakan presentasi, tapi bukan menekankan dari sisi public speaking nya. Termasuk di antaranya adalah hacks2 untuk presentasi online (memilih lighting yang tepat, microphone, posisi kamera, dll.) biar lebih pro.
  • Designing your Deck. Di sesi ini kita dapet ilmu caranya membuat decks yang punya readability bagus. Saya juga baru ngeh, kalau untuk presentasi, lebih baik kita buat decks yang banyak. Yang bisa menyampaikan point-point kita lebih fokus. Presentation slide bakal beda dengan presentation handout. Handout adalah versi slide yang lebih compact informasinya.
  • Choosing Fonts, Color, Images. Sesi ini semacam sesi brief tentang desain grafis. Banyak ilmu juga nih yang saya dapat seperti ilmu tentang tipografi, permainan/kombinasi warna, dan tips-tips lain yang bisa meng-improve presentation decks kita. Ternyata buat slide itu bukan cuman main feeling-feeling-an, kita perlu memperhatikan science di baliknya agar informasi kita secara efektif dapat diterima pembaca. Di sini saya juga baru berkenalan dengan beberapa tools untuk mengecek kontras warna dan juga kombinasi warna dari color.adobe.com.
  • Visual Art Composition. Ini sesi pertama kelas elevator. Isi materinya bisa dikatakan “advance level” dari sesi sebelumnya tentang design grafis. Kita diajari membuat komposisi art yang catchy dan kekinian.
  • Better Chart for Better Stories. Ini mungkin yang paling relate sama pekerjaan sama saat ini, karena sering berkutat dengan data. Di sesi ini kita belajar cara milih chart yang tepat dan memodifikasi chart agar efektif. Sebetulnya saya pernah belajar juga dari buku Storytelling with Data karya Cole Nussbaumer Knaflic. Isinya bagus banget dan komprehensif. Sang pengarang itu pernah kerja di Google.
  • Creative Muscle Workout. Sesi ini diampu oleh Mba Zinnia Nizar, Head of Academy Apple Developer Academy Indonesia. Otak kita dirangsang (lebih tepatnya, diperes) untuk mengeluarkan ide-ide kreatif, membuat analogi, untuk dijadikan konten di presentasi kita. Cukup lelah tapi menarik.
  • Goodbye filler words. Nah ini sesi terakhir yang dibawakan oleh Mba Riri, yang sebetulnya adalah alasan awal saya ikut sesi workshop T&DON. Tapi at the end semua sesi ini full daging. Untuk sesi Mba Riri ini, saya diingatkan lagi untuk mengurangi filler words. Jujur sih, saat kita denger pembicara yang masih ngomong pakai “mmm”, “emmhh”, “apa namanya…”, “you know…”, emang agak gengges. Menurut Mba Riri, untuk mengurangi filler word ini, kita perlu perbanyak kosakata kita. Btw, bahkan untuk orang seperti Barrack Obama, dia punya 5 orang coach yang membantu untuk memoles cara dia berbicara. Ada juga video menarik yang memperlihatkan kondisi Barrack Obama waktu awal-awal jadi politikus dan setelah jadi POTUS (President of The United States). Menarik juga sih lihat video ini. Dulu dia belum bisa pidato dengan lancar dan banyak filler words nya, tapi akhirnya bisa juga jadi public speaker handal. Kita juga bisa dengan berlatih! Coba cek video before & after ini: From the Vault β€’ Barack Obama β€’ SEP 1995: https://youtu.be/w5JlqDnoqlo (lihat dari detik ke-57) dan Indonesia’s Example to the World https://youtu.be/niDPBTbJqS0

T&DON ngasih beberapa referensi buku untuk mendalami teknik-teknik presentasi ini. Salah satu yang recommended adalah buku-bukunya Nancy Duarte. Saat mendengar namanya, sepertinya saya tidak asing dengan nama ini. Eh, ternyata saya punya bukunya! Beberapa tahun lalu saat masih tinggal di Vietnam saya membeli buku bundling dari Harvard Business Review (HBR). Harganya lumayan sih. Saya juga menimbang-nimbang dulu sebelum beli. Tapi dulu saya punya policy beli 1 buku tiap bulan. dan kebetulan buku-buku impor yang dijual di Vietnam relatif lebih murah. Saya dengar untuk bidang pendidikan (buku), pemerintahnya memberikan relaksasi pajak.

Koleksi buku HBR saya yang salah satunya ada buku-nya Nancy Duarte: Persuasive Presentations

Memang sih bukunya Nancy Duarte ini enak dibaca dan praktis. Ternyata meskipun sudah pernah baca, saya lupa banyak point-pointnya, karena kondisi yang tidak terlalu urgent untuk mengaplikasikan buku ini dulu.

Sekian pengalaman saya mengikuti kelas T&DON.

Saya ngerekomenin banget buat temen-temen yang mau improve (invest) soft skill di bidang per-presentasi-an ini untuk ikut kelasnya T&DON πŸ™‚

1 Comment on "Upgrading Presentation Skill with Tendon"


  1. δΈŠζ‰‹γζ­Œγˆγ°γ„γ„γ­οΌγͺんけゃって(笑)
    η™Ίθ‘¨δΌšγŒδΈŠζ‰‹γγ„γ‘γ°γ„γ„γ­οΌ(笑)
    ε…ˆθΌ©γ€ε…ƒζ°—ε‡Ίγ—γ¦
    γ€Œθ‹¦εŠ΄γ‚γ‚Œγ°ζ₯½γ‚γ‚Šγ€Ω©(๑❛ᴗ❛๑)ΫΆ

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *