Tentara Langit Itu Pun Jatuh…

Baru kemarin kami disuruh mencari tahu tentang kecelakaan-kecelakaan di udara saat kuliah Kapita Selekta oleh Pak Harmein. Mungkin (karena belum saya kerjakan sepenuhnya) agar kami dapat menganalisis dan menyimpulkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecelakaan-kecelakaan tersebut. Kuliah selesai pada pukul 13.00, namun ternyata saat itu juga di kota yang sama, di tempat yang berbeda, musibah naas berlangsung. Pada pukul 13.00 tersebut terjadi kecelakaan pesawat yang menewaskan 24 prajurit TNI AU, 18 di antaranya adalah instruktur dan siswa Pendidikan Kualifikasi Khusus Para Lanjut Tempur Angk. XXXIII (Kompas, 7/4).

Sungguh suatu kehilangan besar bagi Indonesia dan institusi TNI. Menurut keterangan (Kompas), para korban adalah anggota Pasukan Khas TNI AU (satu dari sekian banyak pasukan khusus yang dimiliki TNI). Ya, pasukan khusus, merupakan para prajurit yang terpilih. Kini kita kehilangan mereka.

Kecelakaan Udara
Sudah banyak kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia. Penyebabnya bermacam-macam, bisa faktor teknis maupun human error. Yang ingin saya soroti, kecelakaan yang menimpa TNI AU. Dalam hal ini coba kita lihat posisi TNI AU sebagai penyelengara penerbangan yang sejajar dengan maskapai-maskapai komersil lainnya. Kecelakaan pesawat komersil, seperti Adam Air yang jatuh di perairan Majene, Lion Air yang tergelincir di Surabaya, menunjukkan kesalahan dari faktor manusia dan persiapan teknis. Namun lihatlah kecelakaan yang menimpa TNI AU kita, kebanyakan dari faktor teknis, dan jika diperluas lagi faktor teknis itu berupa usia pesawat. OV-10 Bronco yang sudah berkali-kali jatuh (yang terakhir malah menimpa alumni TN, Bang Eli dan Bang Harcus) bukan gara-gara buruknya maintenance pesawat – saya yakin dengan disiplin yang tinggi, tidak mungkin personil TNI mengabaikan tanggung jawab – namun dikarenakan usia pesawat. TNI AU rata-rata memiliki pesawat yang sudah tua dan sudah lewat masa operasinya. Masa operasi pesawat dibatasi, 25 tahun untuk pesawat sipil dan 20 tahun untuk pesawat militer (F Djoko Poerwoko, Kompas (7/4)).

Pengadaan alutsista seperti pesawat tempur, pasti menyangkut dengan dana. Masalah dana atau finansial ini memang merupakan permasalahan kompleks. Di tengah usaha kebangkitan Indonesia dari krisis yang melanda, permasalahan perangkat pertahanan dan keamanan ini kembali menghadapkan kita kepada sebuah pilihan klasik: “bullet or butter”. Artinya, apakah kita akan memprioritaskan hankam atau kesejahteraan internal negeri ini.

Kompleks…sangat kompleks memang.

Semoga Indonesia dan TNI kita dapat menjadi lebih baik. Mari berikan yang terbaik di mana pun kita berada!

Selamat jalan para “Tentara Langit”!
Semoga Allah memberi tempat yang terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Amin.


2 Comments on "Tentara Langit Itu Pun Jatuh…"


  1. iya..buat sanak saudara,kerabat korban semoga tabah menghadapi cobaan ini…ada yang baru punya bayi 5 bulan, ada yang bulan depan mau nikah…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *