Scholarship Hunter 1: Dream, Fight, Ikhlas

Akhirnya saya punya waktu juga buat bikin tulisan yang agak panjang 🙂

Sebenernya sudah lama saya ingin berbagi kisah saya dalam episode “Scholarship Hunter” (SH) ini. Siapa tau ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah saya 😉 Mmm…lupa, entah karena apa dan dari siapa ya saya kenal istilah SH ini?? Yang pasti saya mendeklarasikan diri saya sebagai SH ini sejak tingkat akhir kuliah.
Berawal dari “kepanasan” karena liat temen-temen yang sudah ke luar negeri (dengan gratis) karena exchange dan dapet beasiswa, saya pun ingin mendapatkan kesempatan itu. Ada yang ke Jerman, Cina, Thailand, Amerika Serikat, Jepang. Waaah…bikin iri lah pokonya.  Di kampus saya juga ternyata banyak kesempatan kaya gitu. Cuma sayangnya saya baru sadar di masa-masa akhir perkuliahan. 
First Attempt: SRI
Entah sudah berapa kali saya ikutan EduFair atau pameran pendidikan. Udah ga keitung banyaknya. Brosur-brosur universitas pun numpuk di rumah. Dari EduFair-EduFair tersebut biasanya program beasiswa yang ditawarkan adalah yang untuk melanjutkan studi (postgraduate). Sedangkan saya punya targetan untuk bisa “ke luar” saat masih berstatus mahasiswa. 
Kesempatan pun datang saat teman saya, Ina, memosting info tentang “Summer Research Internship” di NTU Singapura di Milis Sipil 2006. Wahh..langsung deh saya ngumpulin syarat-syarat yang diperlukan, termasuk bikin paspor. Mumpung momennya pas, saya pun bikin “Dream Map”, yang isinya tempat-tempat di dunia yang akan saya kunjungi beserta (target) tahun berkunjungnya. Dream Map itulah yang sekarang jadi header blog ini.
My Dream Map

Saya pun mulai berkirim email ke calon supervisor yang risetnya saya minati. Ini email pertama saya dengan akademisi di luar negeri, oleh karena itu saya sangat hati-hati menyusun kata-katanya. Apalagi Bahasa Inggris saya belum cukup fluent. Tercatat ada Puji dan Ninis yang sering bantuin saya ngedit email sebelum dikirim. Tak disangka, lewat email yang saya kirim ke Assoc. Prof. Louis Wong, sebagai calon supervisor saya, sang profesor menyatakan bersedia untuk menerima saya sebagai mahasiswa research. Tinggal ngurusin seleksi administrasi dari pihak NTU nya. Saya sudah hampir yakin bakal diterima di program ini, soalnya sang calon supervisor saya itu juga sudah mengirim bahan-bahan (paper) buat dipelajari. 

Sayangnya, saya, yang yakin akan lolos dan sudah bolak-balik membaca paper-paper yang diberikan, dinyatakan tidak lolos dalam seleksi peserta SRI 2010 ini. Saya sangat sedih karena saat itu adalah semester terakhir (saya berencana lulus tahun itu – tadinya – aslinya sih jadi taun depannya) yang artinya target saya ke luar negeri sebelum lulus menjadi semakin kecil. Saya memberitahu Assoc. Prof. Wong kalau saya tidak diterima, dan dia pun membalas:

Please don’t give up.  Keep on enriching yourself and there are still plenty of opportunities such as Masters and PhD studies ahead of you!

Kata-kata yang sangat memotivasi saya!
Saat itu soundtrack “3 Idiots” yang berjudul “Give Me Some Sunshine” selalu mengingatkan saya akan “keberhasilan yang tertunda” ini T_T, karena saat itu film tersebut sedang booming. Dan…dream map saya, yang menyatakan akan ke Singapura  pun belum terlaksana di tahun 2010.
Tapi selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Dari “First Attempt” ini saya jadi tidak canggung lagi dalam mengirim email akademik dalam Bahasa Inggris, karena nantinya berguna saat saya berkonsultasi via email dengan salah satu Doktor di Vietnam, yang papernya saya pakai sebagai referensi di tugas akhir (TA) saya, juga saat saya nanti ngepply-ngepply beasiswa lainnya. Saya pun belajar untuk “kuat” membaca paper, dan ini pun berguna buat saya saat menyusun TA nantinya. Selain itu saya juga jadi punya paspor! 😀
Second Attempt: Monbukagakusho/ MEXT 2011
Sebenarnya saya sudah menyerahkan aplikasi Monbukagakusho G to G ini saat proses seleksi SRI berlangsung. Jika saya lolos pada seleksi ini, saya akan berangkat ke Jepang tahun 2011.
Setelah hasil seleksi SRI diumumkan, hasil seleksi dokumen beasiswa Monbukagakusho pun keluar. Saya tahu saya tidak lolos karena saya tidak termasuk pendaftar yang ditelepon oleh Kedubes Jepang. Gagal pula lah kesempatan kedua ini. 
Pelajaran yang bisa saya ambil dari kegagalan kedua sebagai SH ini adalah:
– Jangan mendadak mengisi formulir pendaftaran dan melengkapi syarat-syaratnya
– Baca dengan seksama syarat-syarat yang ditentukan pemberi beasiswa (saya cuma ngirim 3 kopi dokumen, seharusnya dikirim 4)
– Jangan NGARANG kalau bikin research proposal (karena buru-buru, saya bikin research plan H-1, tema research dan step-stepnya pun saya karang tanpa referensi yang jelas dan tidak ilmiah)
Soundtrack yang menemani kejadian ini: mmm…kayanya ga ada deh :p
NB: Untuk program MEXT ini, mereka mensyaratkan sertifikat English Proficiency, entah itu TOEFL atau IELTS. Tapi TOEFL pun tidak perlu yang internasional. Hasil TOEFL Prediction dari institusi bahasa pun diterima. Saya sendiri saat itu menggunakan TOEFL ITP, karena kebetulan baru mengambil les TOEFL di UPT Bahasa ITB (baca juga: Sharing an Experience: TOEFL iBT).
Third Attempt: EMMEP (Erasmus Mundus)
Sejak menghadiri Pekan Interaksi Ilmiah (PII) 2007 yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITB (saat itu saya masih TPB), saya mulai kenal TU Delft lebih dekat. Saat itu saya berkunjung ke stand NESO dan mendapatkan info tentang sekolah engineering tertua di Belanda, sekaligus sekolah yang menjadi “Ayah” dari ITB. Sejak saat itu jika ada Holland EduFair atau European Higher Education Fair (EHEF), saya tidak pernah absen mengunjungi stand Delft. Dari tahun ke tahun, mimpi saya untuk melanjutkan kuliah di kampus biru itu semakin kuat. Sayangnya beasiswa yang ditawarkan untuk kuliah di sana terbatas dan banyak syaratnya. StuNed misalnya, sekarang hanya bisa didapatkan oleh pelamar dari institusi-institusi tertentu dan harus kerja dulu minimal 2 tahun. HSP Huygens, beasiswa untuk “incredible student”, bisa langsung kuliah tanpa harus kerja 2 tahun dulu, pun dihapuskan karena Belanda mengalami kesulitan ekonomi. Alhasil saya pun harus mencari jalan agar bisa terbang ke Belanda.

Sejak awal 2010, saya sudah mencari-cari info tentang beasiswa lain menuju Delft. Akhirnya saya menemukannya setelah googling! Jalan menuju Delft itu “tersempil” di dalam Erasmus Mundus Mineral and Environmental Programme (EMMEP). Itu sebenernya program bidang tambang, tapi di dalamnya dibagi lagi jadi 3 courses, dan salah satu course itu berhubungan dengan geoteknik, yaitu EGEC.

Setelah berbulan-bulan berlalu, sampailah saya di bulan September. Hampir saja saya lupa mengenai pendaftara EMMEP ini. Jadi persiapannya pun agak ngebut. Untungnya paspor sudah buat (efek dari SRI). Saya pun berusaha memenuhi syarat-syarat untuk apply beasiswa ini.
Beasiswa Erasmus Mundus termasuk yang paling asyik, karena seleksinya hanya seleksi dokumen dan kuliahnya itu minimal di 2 negara. EMMEP yang saya apply malah lebih seru, kuliah di 4 negara! Yaitu di Polandia, Hungaria, Belanda, dan Inggris. Wow!

Inilah dokumen-dokumen yang saya siapkan sebagai syarat pendaftaran:
– Surat keterangan akan lulus April 2011
– Transkrip
– TOEFL iBT score (min. 90)
– Essay 2000-3000 kata
– Surat rekomendasi
– CV
– Fotokopi paspor
– Formulir EMMEP

Dari sekian banyak syarat tersebut yang paling susah adalah TOEFL dan essay. TOEFL, harus iBT, dan saya belum punya. Artinya inilah “tes” EMMEP untuk saya. Saya pun menyiapkan diri untuk tes TOEFL dengan metode SKS (Sistem Kebut Sebulan). Alhamdulillah bisa melampaui score yang disyaratkan (baca juga: Sharing an Experience: TOEFL iBT). Kemudian essay. Karena universitas koordinator untuk program ini adalah Delft, maka essay pun harus mengikuti ketentuan yang disyaratkan Delft. Untungnya saya punya teman-teman yang baik hati yang mau nge review essay saya (Puji dan Ninis). Sampai hari terakhir ngirim (dengan prediksi sampai di Belanda tanggal 1 November, kalau lebih dari itu saya kena denda) saya masih mengerjakan essay.
Tanggal 27 Oktober 2010:
16.00: Essay belum selesai…telepon DHL di Soekarno Hatta, ngirim request: jangan tutup dulu!

17.00: Pergi ke DHL Soekarno Hatta
…fiuhh what a hectic day it was…

Dokumen yang akan dikirim via airmail

DHL Soekarno-Hatta Bandung: thanks for waiting for me! 🙂

Di awal tahun 2011, ada kasus aneh di web konsorsium FEMP . Rekap nilai seleksi pendaftar EMMEP ada di sana semua dalam format excel. Mungkin panitia teledor info sepenting itu bisa terekspos. Akhirnya saya pun mendownloadnya (di kemudian hari page website tersebut ditutup untuk publik). Di sana saya berada di peringkat ke-5 di course EGEC. Sedangkan beasiswa yang akan diberikan berjumlah 8 untuk tiap-tiap course. Alhamdulillah, sejak saat itu saya optimis bisa mendapatkan beasiswa EMMEP ini \m/ (u yeah!).

Namun beberapa bulan kemudian official announcement dari Delft keluar. Di situ tertulis siapa-siapa saja yang lolos seleksi tahap pertama. Saya lolos, namun masuk waiting list. Tahap berikutnya list pendaftar yang lolos dikirim ke konsorsium untuk selanjutnya dipilih/ dilakukan seleksi akhir. Saya belum putus semangat, setelah itu saya memperbanyak berdoa dan memantaskan diri. Ya, saya berhipotesis dan yakin kalau beasiswa itu akan datang kepada orang yang mencari peluang dan pantas menerimanya. Saya pun mulai membaca-baca materi geoteknik tambang juga les Bahasa Inggris lagi untuk persiapan kuliah di Eropa (saat itu saya mensugestikan diri saya akan lolos). Sayangnya saat konsorsium mengumumkan pengumuman final, saya masih berada di waiting list. Tapi keadaan bisa berubah, karena dari tahun ke tahun banyak pengalaman kalau pelamar yang ada di waiting list punya kesempatan naik ke main list (temen saya, Nabila, berhasil “naik” dan terbang ke Prancis untuk program IMACS). Saya juga mendapat email dari perwakilan Uni Eropa di Jakarta untuk bersiap-siap kalau tiba-tiba saya naik “klasemen”.

Akhir April, Mei, Juni, Juli…belum ada email dari Ms. Jitske van der Laan (yang ngurusin EMMEP) ke saya. Akhirnya di bulan Agustus saya ikhlas menerima kenyataan kalau saya tidak lolos EMMEP. Belakangan saya dapat info dari teman baru saya, Ifeanyi dari Nigeria, kalau yang mengundurkan diri hanya satu orang. Dan saya ada di waiting list ke-3. Sedihnya, berbagai macam formulir administrasi sudah saya download untuk persiapan kalau-kalau saya harus pergi tiba-toba. Diantara form itu, ada form pengurusan visa ke Polandia.

Dan…dream map saya, yang menyatakan akan ke Delft pun belum terlaksana di tahun 2011.

Sekali lagi ada hikmah di balik kejadian ini. Mungkin ini bukan yang terbaik bagi saya. EMMEP itu lebih fokus ke geoteknik tambang dan tidak membahas infrastruktur secara menyeluruh sesuai dengan cita-cita saya. Juga untuk beberapa beasiswa, termasuk EMMEP ini, pengalaman kerja sangat dibutuhkan. Saya melihat-lihat lagi ranking di excel yang saya download, dan menemukan orang-orang yang peringkatnya di bawah saya namun sudah punya pengalaman kerja malah masuk main list.
Tapi, sisi positifnya, saya jadi punya score TOEFL iBT!

Soundtrack yang mengiringi kisah saya ini adalah musik klasik karya Bach yang judulnya “Air“. Setiap mendengarkan musik ini saya selalu membayangkan berada di pesawat terbang yang membawa saya ke Schiphol. Sedihnya… T_T

Fourth Attempt: Kompetiblog 2011
Berbeda dengan tiga kisah sebelumnya, cerita saya yang satu ini berhubungan dengan keinginan ingin ke luar negeri tapi tidak berkaitan dengan bidang akademik yang saya geluti. Kira-kira kuartal pertama 2011, NESO Indonesia menyelenggarakan kompetisi blog yang hadiah utamanya mengikuti summer course di Utrecht, Belanda. Sekali lagi saya mencoba untuk menjadi juaranya. Sebetulnya tahun dua tahun sebelumnya saya pernah ikutan kompetiblog juga, tapi masih main-main dan ga niat. Sedangkan yang tahun 2011 ini saya sampai melakukan riset-riset alias baca-baca beberapa referensi. Karena keinginan saya untuk keluar negeri apalagi ini ke Belanda, sangat besar. Ini artikel-artikel saya.

Akhirnya akhir Mei saya dinyatakan masuk 30 besar calon pemenang dari ribuan yang daftar! Dag dig dug…duer!! Saya pun gagal lagi, sehingga belum berhasil mendapatkan kesempatan ke luar negeri.

Foto bareng Ko’ Yoshua (Yoshua Kristianto) dari NESO saat menyerahkan sertifikat di Edu Fair yang diadakan anak-anak SBM di GSG ITB (muka saya lagi gosong soalnya baru pulang dari lapangan :p)

Dream, Fight, Ikhlas
Beberapa kisah saya, terutama yang no.1, 3, dan 4, kalau saya analogikan bagaikan lagi mau ngambil buah mangga. Perlahan-lahan tangan saya sudah mendekati si buah, namun tiba-tiba tanpa sadar tinggi saya belum cukup untuk meraihnya.

Saat ada workshop Kompas Muda di kampus, saya sempat berfoto dengan Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Beliau pun sempat memberikan saya tanda tangan dan pesan singkat: Dream, Fight, Ikhlas. Nampaknya tiga kata ini yang selalu beliau tulis kalau ada yang minta tanda tangan. Soalnya temen saya (Ninis) juga pernah dapet dan tulisannya sama. Hehe.

Bang Fuadi tidak menjelaskan apa makna tiga kata tersebut. Namun saya coba mencari-cari sendiri. Beginilah kira-kira:
Kita harus selalu punya mimpi, selalu memperjuangkan mimpi tersebut, dan…ikhlas.
Nah, kata terakhir inilah yang saya agak ngga ngerti.

Ada sebuah hadits, ini saya ambil dari sebuah website, yang berisi cuplikan salah satu buku Aa Gym:

Seorang sahabat dengan mimik serius mengajukan sebuah pertanyaan,“Ya kekasih Allah, bantulah aku mengetahui perihal kebodohanku ini. Kiranya engkau dapat menjelaskan kepadaku, apa yang dimaksud ikhlas itu?“
Nabi SAW, kekasih Allah yang paling mulia bersabda,“Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril a.s.apakah ikhlas itu?Lalu Jibril berkata,“Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya?“ Allah SWT yang Mahaluas Pengetahuannya menjawab,“Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“(H.R Al-Qazwini)

Yang bisa saya tangkap, insya Allah, ikhlas itu berarti segala apa yang kita “fight”-kan itu semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah. Apapun hasilnya kita kembalikan kepada Allah, dengan bersyukur dan sabar. Menurut saya, hanya ada tiga hasil dari setiap proses FIGHT yang saya jalani: dikabulkan, ditunda, atau diberi yang lebih baik.

Pengalaman-pengalaman yang saya alami ini, saya rasa termasuk ke dalam siklus Dream, Fight, Ikhlas tersebut. Mungkin saat itu saya belum pantas untuk mendapatkan beasiswa/ kesempatan ke luar. Saya harus sabar.

Wallahualam.

(berlanjut ke Scholarship Hunter 2…)

7 Comments on "Scholarship Hunter 1: Dream, Fight, Ikhlas"


  1. Kak Ghani, ini Sheyka temennya Charmel (saya nge-follow Tumblr kakak). Terima kasih banget atas ceritanya. Mau nangis rasanya baca tentang kalimat arti keikhlasan dari H.R. Al-Qazwini itu dan memang momen bacanya itu pas banget, saat saya lagi down karena kuliah yang (terlalu) hectic.Jujur, waktu tahu tentang kakak, aku langsung ingat sama Bapak. Beliau lulusan Teknik Sipil ITB juga. Nggak tahu apa karena sama-sama anak ITB, sepertinya pendapat kakak tentang hidup mirip sama Bapak saya hahaha. Btw, untuk beasiswa, sepupu saya (Teknik Penerbangan 2005) kini ambil S2 dengan beasiswa full di Pohang Institute of Technology di Korea Selatan. Dia nggak ikut-ikutan beasiswa yang biasa diikuti orang banyak, tapi lebih ke arah jalur independen. Jadi begini, dia memilih mana kampus + jurusan yang dia mau dari suatu universitas (misalnya Postech itu), lalu hubungi contact person di bagian administrasinya untuk mendapatkan persyaratan aplikasi. Saat itu ia masih bekerja di GIA. Selama bekerja, dia submit proposal untuk pendanaan beasiswa S2-nya kemana-mana, sampai akhirnya ada perusahaan peralatan bangunan yg mau membiayainya full. April 2011 kemarin dia resign dari GIA dan dia pun terbang ke Pohang bulan Agustusnya. Mungkin cerita tentang sepupu saya bisa membantu Kak Ghani yang lagi nyari beasiswa. Lucunya, cara yang diambil sepupu saya itu jarang banget digunakan oleh mahasiswa ITB. Dia bilang dia mahasiswa pertama yg masuk Postech dari ITB. Padahal Postech itu top three di Asia dan ranking 28 dunia. Semoga sukses dan terima kasih atas salamnya (Charmel sudah bilang ke saya bulan lalu), Kak Ghani! Sheyka, BI 09

    Reply

  2. Halo Sheyka, Iya, waktu itu ketemu Charmel pas acara Panda (kamu suka mamalia kan? hehe). Terus nanyain kamu, soalnya saya kayanya ga kenal anak2 Biologi '09 lain kecuali anak LSS.Alhamdulillah klo tulisan saya bisa bermanfaat, kecuali nangisnya (I won't be responsible for that) :)Oh,gitu,Bapak Sipil angkatan berapa? 70-an akhir ya? atau 80-an awal?Oia, makasih ya info-nya. Saya juga selalu ngikutin info KOREA (dapet majalah gratisan soalnya) & lagi baca PDF tentang perkembangan teknologi di Korea. Mereka bahkan di beberapa bidang udah ngalahin Jepang. Ga heran sih beberapa universitasnya udah nembus world's top university.Amiin. Makasih ya Sheyka 🙂

    Reply

  3. Apa itu Panda? Nama acara? Kata Cil, dia ketemu kakak pas acara reuni (di Biologi ada 2 orang lagi yang dari TN selain Cil, btw). Dan ya, saya memang suka banget dengan mamalia hehehe. Terima kasih sudah baca Tumblr-nya!Bapak angkatan 80-an, tp saya sendiri lupa tepatnya berapa. Pokoknya beliau sekarang umurnya masih 48 tahun. Sama-sama, Kak. Sipsiip

    Reply

  4. nanti kalau udah sampai tokyo, tau2 ada aja kesempatan terbang ke tempat yg udah ditulis di dream mapnya ;)kadang jalan-Nya harus belok, supaya bisa liat2 lebih banyak.Allah mah baik ya Ghan. Selamat untuk beasiswanya yg sekarang, semoga sukses dan berkah ilmunya. kapan2 kita ketemu lg di lain kesempatan 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *